Jakarta - Selat Hormuz memanas lagi setelah Iran mengambil langkah yang belum pernah terjadi sejak perang pecah awal tahun ini. Di tengah mandeknya pembicaraan damai, Teheran bukan hanya melepaskan tembakan, tetapi juga menyita kapal-kapal dagang yang mencoba keluar dari Teluk.
Pemerintah Iran pada Rabu (22/4/2026) waktu setempat menyatakan telah menangkap dua kapal kontainer yang berupaya meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz, setelah sebelumnya menembaki kapal-kapal tersebut serta satu kapal lainnya. Ini menjadi penyitaan pertama sejak perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada Februari.Tasnim News Agency melaporkan bahwa penyitaan dilakukan oleh angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa setiap gangguan terhadap ketertiban dan keamanan di selat tersebut akan dianggap sebagai "garis merah".
Langkah Iran memperketat jalur ini berdampak besar. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia setiap hari. Dalam kondisi normal, sekitar 130 kapal melintas keluar-masuk Teluk setiap hari, namun kini jumlahnya menyusut drastis menjadi hanya segelintir kapal.
Di sisi lain, AS juga telah memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran setelah beberapa pekan konflik. Dengan pembicaraan damai yang saat ini terhenti, masa depan pelayaran di jalur vital ini masih penuh ketidakpastian.
"Penyitaan terbaru ini memperjelas bahwa bahkan Selat Hormuz yang 'dibuka' pun tidak aman bagi pelaut, kapal, dan kargo," kata Peter Sand, kepala analis platform intelijen logistik Xeneta.
Kapal Ditembaki dan Disita
Salah satu kapal yang disita adalah MSC Francesca berbendera Panama. Menteri urusan maritim Montenegro, Filip Radulovic, mengonfirmasi adanya empat pelaut asal negaranya di kapal tersebut dan memastikan seluruh awak dalam kondisi aman.
"Negosiasi antara perusahaan pelayaran dan pihak Iran sedang berlangsung, dan otoritas negara terkait terus menjalin kontak dengan awak kapal," ujarnya, dilansir Reuters.
IRGC menuduh MSC Francesca dan kapal lain berbendera Liberia, Epaminondas, beroperasi tanpa izin yang diperlukan serta memanipulasi sistem navigasi mereka.
Kapal Epaminondas yang dioperasikan oleh perusahaan Yunani dilaporkan ditembaki sekitar 20 mil laut barat laut Oman. Menurut laporan Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris dan sumber keamanan maritim, kapal tersebut mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah terkena tembakan dan granat berpeluncur roket dari kapal cepat IRGC.
Operatornya, Technomar Shipping Inc, membenarkan serangan tersebut dan menyatakan seluruh awak kapal selamat. Dalam pembaruan selanjutnya, perusahaan itu mengonfirmasi bahwa Epaminondas telah dinaiki oleh pasukan Iran.
Kapal itu membawa 21 awak yang terdiri dari warga Ukraina dan Filipina, menurut penjaga pantai Yunani, yang belum dapat memastikan status penyitaan secara resmi.
"Technomar tetap berkomunikasi erat dengan otoritas terkait di kawasan," kata perusahaan tersebut. "Prioritas kami adalah keselamatan dan kesejahteraan awak kapal, sambil bekerja dengan semua pihak terkait untuk memastikan keselamatan mereka dan segera menyelesaikan situasi ini."
Sumber keamanan maritim menyebut kapal yang menyerang Epaminondas diawaki tiga orang. Nakhoda kapal juga melaporkan tidak ada komunikasi radio sebelum serangan, meskipun kapal telah memperoleh izin melintas sebelumnya. Kapal tersebut kini diperkirakan diarahkan menuju Bandar Abbas.
Sementara itu, MSC Francesca dilaporkan terkena tembakan sekitar delapan mil laut di barat Iran, namun tidak mengalami kerusakan dan seluruh awak selamat.
Kapal ketiga, Euphoria berbendera Liberia, juga ditembaki di area yang sama. Namun kapal itu tidak rusak dan melanjutkan pelayaran hingga mencapai Fujairah di Uni Emirat Arab.
Menurut sejumlah sumber, ketiga kapal tersebut berusaha keluar dari Selat Hormuz secara beriringan pada dini hari, dengan sebagian sempat mematikan sistem navigasi mereka.
Penyitaan ini menjadi yang pertama sejak 2024, ketika Iran menangkap kapal kontainer MSC Aries di wilayah yang sama. Hingga kini belum ada informasi mengenai muatan yang dibawa kapal-kapal tersebut.
Artikel disalin dari: https://www.cnbcindonesia.com
"Technomar tetap berkomunikasi erat dengan otoritas terkait di kawasan," kata perusahaan tersebut. "Prioritas kami adalah keselamatan dan kesejahteraan awak kapal, sambil bekerja dengan semua pihak terkait untuk memastikan keselamatan mereka dan segera menyelesaikan situasi ini."
Sumber keamanan maritim menyebut kapal yang menyerang Epaminondas diawaki tiga orang. Nakhoda kapal juga melaporkan tidak ada komunikasi radio sebelum serangan, meskipun kapal telah memperoleh izin melintas sebelumnya. Kapal tersebut kini diperkirakan diarahkan menuju Bandar Abbas.
Sementara itu, MSC Francesca dilaporkan terkena tembakan sekitar delapan mil laut di barat Iran, namun tidak mengalami kerusakan dan seluruh awak selamat.
Kapal ketiga, Euphoria berbendera Liberia, juga ditembaki di area yang sama. Namun kapal itu tidak rusak dan melanjutkan pelayaran hingga mencapai Fujairah di Uni Emirat Arab.
Menurut sejumlah sumber, ketiga kapal tersebut berusaha keluar dari Selat Hormuz secara beriringan pada dini hari, dengan sebagian sempat mematikan sistem navigasi mereka.
Penyitaan ini menjadi yang pertama sejak 2024, ketika Iran menangkap kapal kontainer MSC Aries di wilayah yang sama. Hingga kini belum ada informasi mengenai muatan yang dibawa kapal-kapal tersebut.
Artikel disalin dari: https://www.cnbcindonesia.com

إرسال تعليق